Sejarah PSHT, Perjuangan Ki Hadjar Hardjo Oetomo

Sejarah PSHT – Persaudaraan Setia Hati Ternate atau lebih akrab disebut dengan SH Terate, begitulah masyarakat daerah menyebut namanya adalah sebuah ikatan persaudaran semacam perguruan bela diri silat, dengan tujuannya untuk mendidik dan membentuk manusia yang berbudi luhu, dapat membedakan mana yang benar dan salah, serta bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa[src].

Ikatan ini mengajarkan kesetiaan, kepada siapapun anggotanya didalam hati sanubari mereka, serta mengedepankan keutamaan persaudaraan antar anggota PSHT, menurut sejarah PSHT berbentuk sebuah organisasi yang juga merupakan aliran PSH atau Persaudaraan Setia Hati.

Sejarah PSHT

Bunyi falsafah berikut ini sudah cukup lama menghiasi sejarah P.S.H.T hingga sekarang dan berhasil meningkatkan nama PSHT sebagai yang terkenal akan persaudaraannya yang kekal dan abadi.

1. Semboyan PSHT

Beberapa simbol, semboyan, dan falsafah tersebut dikutip dari budaya dan ajaran Jawa, tetap sudah melekat dan seakan menjadi ciri khas hubungannya dengan sejarah PSHT hampir 1 abad lamanya. Beberapa semobyan psht tersebut, adalah:

Memayu Hayuning Bawana
Soero diro Djojo diningrat lebur dining Pangastuti
Ngluruk tanpa Bala Menang tanpa Ngasorake
Sepiro Gedenging Sengsara yen tinampa amung Coba
Selama matahari masih terbit dari timur,dan terbenam di barat.
Selama itu pula lah Persaudaraan Setia Hati Terate akan jaya selamanya

Sejarah P.S.H.T

Dialah Ki Hadjar Hardjo Oetomo, seorang lelaki kelahiran Madiun tahun 1890. Karena ia komitmen dengan ketekunannya untuk mengabdi pada gurunya Ki Ngabehi Soerodiwiryo, ia pun akhirnya mendapatkan kasih yang lebih dan berhasil menguasai hampir seluruh ilmu dari sang guru hingga ia menyandang gelar pendekar tingkat II dalam tataran ilmu SH.

sejarah psht
Gambar sejarah psht

Sebagai seorang pendekar, beliau-pun juga memiliki keinginan luhur untuk mengajarkan (mendarmakan) ilmu yang ia pahami kepada orang lain, untuk kebaikan sesama, untuk keselamatan dunia, untuk keselamatan sesama. Namun, pada kenyataannya niat baiknya itu tak semulus jalan yang ia tempuh. Jalan yang ia lalui bagaikan jembatan berduri yang terbakar dengan banyak rintangan.

Masa-masa sulit beliau lewati, terlebih pada waktu itu adalah jaman penjajahan. Ki Hadjar sendiri saat itu sampai magang menjadi guru SD di benteng Madiun selepas ia menyelesaikan bangku sekolahnya. Tak cocok kiranya sebagai guru, Ki Hadjar berganti profesi sebagai Leering Reambate di SS atau yang sekarang kita kenal dengan PJKA Bondowoso, Panarukan dan Tapen.

2. 5 Prinsip Dasar PSHT

Seperti yang terlihat dalam sejarah PSHT, bahwa falsafah dan ajaran SH Terate telah menjadi prinsip dasar SH Terate, sehingga untuk tercapainya keseimbangan dalam tubuh dan pikiran (jasmani dan rohani), PSHT didirkan bersamaan dengan 5 prinsip dasar yang meliputi:

  • Persaudaraan 
  • Olah Raga
  • Bela Diri (Self-Defence)
  • Seni Budaya
  • Kerokhanian Ke SH-an

Menjelang tahun 1906, terdorong dengan adanya semangat pemberontakan terhadap pemerintahan Belanda karena pada saat itu atasan beliau banyak yang memang berasal dari Belanda. Ki Hadjar keluar dan melamar jadi seorang mantri di pasar Spoor Madiun. 4 Bulan setelahnya, ia dipekerjakan di Mlilir dan berhasil diangkat menjadi seorang Ajund Opsioner di pasar tersebut.

Meskipun begitu, lagi-lagi beliau dikejar oleh semangat untuk melawan para kolonis itu. 10 tahun sejak 1906, ia berganti profesi dan bekerja di Pabrik gula di Rejo Agung Madiun, disini beliau juga hanya bekerja selama 1 tahun dan kemudian keluar dan berganti profesi lagi.

Selanjutnya, ia bekerja di sebuah rumah gadai, hingga akhirnya beliau bertemu dengan seorang tetua dari Tuban yang kemudian memberikannya pekerjaan di stasiun Madiuan sebagai pekerja harian. Di tempat barunya, Ki Hadjar berhasil mendirikan sebuah perkumpulan bernama “Harta Jaya” sebuah perkumpulan untuk melindungi anggotanya dari lintah darat.

3. Titik Balik

psht
Gambar psht

Nasib baik datang kepada Ki Hadjar bersamaan dengan lahirnya VSTP, sebuah Persatuan Pegawai Kereta Api, saat itu beliau diangkat menjadi Hoof Komisaris Madiun. Bersamaan dengan posisi yang ia miliki saat itu, kehidupannya juga semakin membaik dengan kehidupan yang lebih layak. Di sela-sela kesibukannya ia memanfaatkan waktu senggang dengan berguru pada Ki Ngabehi Soerodiwiryo.

4. Masuk Sarikat Islam.

Memasuki era tahun 1922, semangat Ki Hadjar untuk memberontak pada Belanda semakin membara seakan ingin meledak, ia bergabung dengan Sarikat Islam untuk bersama-sama mengusir para penjajah itu, bahkan beliau sempat ditunjuk sebagai pengurus. Di senggang waktunya itu, beliau masih sempat menurunfkan ilmunya dan berhasil mendirikan sebuah perguruan silat.

Perguruan silat tersebut diberi nama SH Pencak Spor Club, berlokasi di sebuah desa Plangbangau, Madiun, Jawa Timur. Dikarenakan desas-desus berdirinya, perguruan inipun tidak berjalan lama dan dibubarkan. Meskipun begitu, Ki Hadjar tidak melemah bahkan semangatnya semakin mendidih bersamaan dengan rasa bencinya kepada Belanda.

Sebuah trik dijalankan untuk menipu para Belanda, SH yang telah dibubarkan Belanda saat itu, diam-diam beliau rintis lagi dengan menghilangkan kata “Pencak” dan akhirnya namanya menjadi “SH Sport Club”. Cara cerdik ini berhasil dan nasib baik kembali berada di sisi Ki Hadjar dan Belanda membiarkan kegiatan tersebut bberjalan.

Dalam catatan sejarah psht, Perjalanan perguruan ini berhasil hingga murid pertamanya-pun Idris lalu Mujini, Jayapana dan masih banyak yang terlahir dari perguruan ini, mereka tersebar hingga Jombang, Ngantang, Lamongan, Solo bahkan Yogyakarta

5. Ditangkap Belanda.

Seiring berjalannya waktu, murid Ki Hadjar semakin bertambah dan semakin banyak. Kesempatan emas ini beliau gunakan untuk memperkokoh perlawanannya melawan Belanda. Pada tahun 1925, nasib buruk menimpa Ki Hadjar, Belanda mencium adanya jejak yang mencurigakan, Beliau ditangkap dan dimasukkan kedalam sel penjara di Madiun.

Di dalam penjara, semangat beliau tidak menurun bahkan semakin panas. Jika dibayangkan, seperti air yang sedang dimasak dan tutupnya bergoyang-goyang karena mendidih. Lewat cara sembunyi-sembunyi, beliau berusaha mengajak rekan senasib yang berada di dalam tahanan penjara untuk melakukan perlawanan lagi, namun sayang Belanda mengetahuinya.

Ki Hadjar dipindahkan ke penjara Cipinang dengan alasan pengamanan dan lalu dipindahkan lagi ke penjara Padang Panjang di Sumatera. Beliau akhirnya bebas setelah mendekap selama 5 tahun di dalam penjara dan kembali ke kampung halamannya, Pilangbangau, Madiun.

6. Kebebasan 

Jeda waktu beberapa bulan setelah Ki Hadjar bebas dan pulang, ia mulai menggalakkan kegiatan yang sempat macet tersebut. Memasuki tahun 1942 dimana waktu datangnya Jepang / Nippon ke Indonesia, nama SH Pemudah Sport Club berubah menjadi SH Terate. Nama ini diyakini diambil setelah beliau mendapatkan ide dari salah seorang muridnya.

sejarah p s h t
Gambar sejarah p s h t latihan

Berjalan 6 tahun kemudian, pada tahun 1948, SH Terate mulai mengembangkan sayapnya dan merembah ke seluruh penjuru negeri. Ajaran SH Terate mulai dikenal oleh masyarakat luas dan jaman-pun silih berganti. Proklamasi kemerdekaan RI dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta dengan tempo singkat telah membawa angin perubahan besar dalam kehidupan bangsa.

Dalam segala aspek kehidupan tersebut, termasuk juga kebebasan untuk bertindak dan berpendapat. Bersamaan dengan prakarsa Soetomo Mangku Negoro, Darsono dan juga saudara seperguruan lainnya, diadakanlah sebuah konferensi di Pilangbangau (di rumah Alm. Ki Hadjar Hardjo Oetomo). Disinilah sejarah psht dimana perguruan ini mulai terkenal.

Hasil dari konferensi dalam sejarah psht itu adalah perubahan status perguruan menjadi organisasi persaudaraan. Setelah itu, Soetomo Mangkudjajo menjadi ketua dan Darsono sebagai wakilnya. Dikarenakan Soetomo pindah di tahun 1950, posisi ketua digantikan dengan Irsad. Pada tahuni ini juga Ki Hadjar mendapat pengakuan dari pemerintah dan ditetapkan sebagai “Pahlawan Perintis Kemerdekaan”.

7. Tingkatan Dalam SH Terate

Siswa (pemula)

Seorang anggota SH Terate harus menjalankan latihan fisik dan mental spiritual selama minimal 2 tahun dan dalam 2 tahun itu dibagi menjadi 4 tingkatan yang masing masin dilalui selama 6 bulan latihan.

Siswa Polos

Memiliki sebutan lain Hitam, anggota ini dapat ditandai dengan sabuk berwarna hitam. Pada masa ini, seorang anggota dikenalkan tentang SH dan SH Terate, pengenalan gerakan dan beberapa jurus.

Siswa Jambon (merah muda)

Setelah lulus dari siswa polos, ujian kenaikan selanjutnya ditandai dengan sabuk berwarna merah muda. Dalam tingkatan ini ada penambahan gerakan.

Siswa Hijau

Menggunakan sabuk berwarna hijau, mereka yang berada di kategori Siswa Hijau akan mempelajari gerakan lebih banyak. Selain itu, mereka juga akan mempelajari senam dan jurus Toya.

Siswa Putih

Siswa Putih merupakan tingkatan tertinggi siswa SH yang ditandai dengan penggunaan sabuuk putih, semua gerakan termasuk kuncian dan melepaskan serta pernafaskan tinggal dilengkapi dengan jurus terakhir, setelah menjadi “Siswa” mereka yang lulus berarti siap menjadi seorang “Warga”.

8. Warga SH Terate

Gelar Pertama (TINGKAT Satu)

  • Membangun fisik, siswa belajar menggunakan anggota tubuh secara lebih efektif
  • Setiap langkah diakhiri dengan ujian, ada sistem lulus dari ikat pinggang dan slendang.

Gelar Kedua (TINGKAT Dua)

  • Lebih terfokus pada Silat
  • Siswa belajar untuk bergerak dengan efektik
  • Mempelajari teknik bela diri yang bisa mematikan
  • Pembangunan fisik 50% mental 50%

Gelar Ketiga (TINGKAT Tiga)

  • Gelar hanya ditujukan bagi yang terpilih
  • 95% spiritual dan 5% pembangunan fisik
  • Saat ini ada satu orang bergelar ketiga putih selendang, ketua PSHT, yaitu mas Tarmadji Boedi Harsono Mas sebelum beliau tutup usia pada tahun 2015.

Demikian artikel dari duniasejarah.com tentang sejarah psht dan perkembangannya. Semoga bermanfaat bagi teman-teman pembaca sekalian, terimakasih dan marilah bersama kita tingkatkan rasa ingin tau kita terhadap kejadian masa lalu, terimakasih.

Tags: