Sejarah Candi Sukuh, Candi Kontroversial dari JaTeng

Sejarah Candi Sukuh – Candi sukuh merupakan sebuah kompleks candi dari agama Hindu yang terletak di wilayah desa Berjo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah (lokasi secara administrasi). Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu dikarenakan ditemukan objek yang diyakini sebagai pujaan “Lingga” dan “Yoni” melambangkan kesuburan.

Tahukah anda! Candi Suku telah diusulkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia sejak 1995 ke UNESCO

Beberapa dari kita mungkin akan sedikit tidak nyaman jika berkunjung ke lokasi yang diyakini menyimpan beberapa hal yang kontroversial. Disinilah saya mencoba untuk sedikit membagikan informasi seputar sejarah Candi Sukuh Karanganyar kepada teman-teman pembaca

Sejarah Candi Sukuh

Menurut sumbernya, sejarah candi sukuh karanganyar ini pertama kalo dilaporkan pada era pemerintahan Britania Raya di Jawa pada tahun 1815 oleh orang yang bernama Johnson, residen Surakarta. Saat itu, Johnson ditugaskan ditgasi untuk mengumpulkan data-data untuk menulis buku “The History of Java” oleh Thomas Stanford Raffles. Setelah masa Britania Raya berlalu, pada 1842 seorang Arkeolog Belanda bernama Van der Vlis melakukan penelitian di lokasi ini.

Struktur Bangunan Candi Sukuh

sejarah candi sukuh
Gambar candi sukuh bangunan utama

Kesan pertama yang mungkin akan anda dapatkan saat berkunjung ke tempat ini adalah kesan “kesederhanaan” dimana tidak ditemukan di candi candi besar lainnya di Jawa Tengah. Sangat berbeda, apalagi jika kita bandingkan dengan Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bentuk dari Candi Sukuh mirip dengan peninggalan peradaban Maya yang ada di Mexico atau Inca yang ada di Peru.

Struktur bangunan dari  Candi ini juga mengingatkan kita akan bentuk pyramid yang ada di Mesir. Pada tahun 1930, seorang arkeolog Belanda W.F Stutterheim tertarik akan kesederhanaan dari Candi ini dan mencoba menjelaskan dengan memberikan beberapa argumen, seperti berikut

  • Pertama, ada kemungkinan bahwa pemahat candi bukan seorang tukang batu, melainkan tukang kayu dari kalangan masyarakat biasa yang bukan dari kalangan kraton
  • Kedua, Candi Sukuh dibuat dengan terburu-buru sehingga hasilnya kurang rapi
  • Ketiga, Keadaan politik saat itu adalah saat-saat dimana Majapahit akan runtuh, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat candi yang megah.

Jika anda berkunjung, anda bisa memasuki pintu utama lalu melewati Gapura terbesar dengan arsitektur khas agak miring dengan bentuk trapesium ditambah atap dibagian atasnya. Bebatuan di Candi ini agak berwarna kemerahan karena batu yang digunakan adalah jenis andesit.

Teras Candi Sukuh

Candi Sukuh terletak di ketinggian ± 1.186 mdpl. Candi ini terletak di Dukuh Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Jawa Tengah. Untuk berkunjung ke lokasi ini, anda harus menempuh jarak sekitar 20 kilometer dari kota Karanganyar, atau 36 Kilometer dari Surakarta[src].

Teras Pertama Candi Sukuh

Pada bagian teras pertama terdapat sebuah Gapura yang diyakini sebagai Gapura utama. Pada Gapura ini ada sebuah sengkala memet yang dalam bahasa Jawanya berbunyi “Gapura buta aban wong” yang artinya raksasa gapura memangsa manusia yang masing-masingnya memiliki arti angka 9, 5, 3 dan 1 yang jika dibalik menjadi 1359 yang diyakini merupakan tahun berdirinya Candi tersebut.

Gambar relief sengkala pada gapura
sejarah candi sukuh sengkala memet kiri
Sengkala memet gapura buta aban wong
sejarah candi sukuh sengkala memet kanan
Sengkala memet gapura buta anahut buntut

Di sisi sebelahnya juga terdapat relife sengkala memet juga yang digambarkan berwujud gajah bersorban yang menggigit ular dibagian ekor. Hal ini dianggap melambangkan “Gapura buta anahut buntut” yang artinya raksasa gapura menggigit ekor dan memiliki tafsir yang sama sebagai 1359 Saka.

Teras Kedua Candi Sukuh

Sayangnya, gapura yang terdapat pada teras kedua ini sudah rusak. Di bagian kanan dan kiri gapura terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala namun dalam keadaan rusak dan bentuknya sudah tidak jelas lagi. Gapura yang ada dilokasi tersebut sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak terdapat banyak patung.

Dibagian gapura terdapat sebuah candrasangkala yang berbunyi “Gajah wiku anahut buntut” yang berarti Gajah pendeta menggigit ekor, maksud dari kata-kata ini diyakini bermakna 8, 7, 3 dan 1. Jika dibalik menjadi 1378 Saka yang berarti 1456 Masehi.

Teras Ketiga Candi Sukuh

Pada teras ketiga terdapat sebuah pelataran besar dengan Candik induk ditambah beberapa panel dengan relief bermacam-macam disebelah kiri serta patung-patung yang berjejer di sebelah kanan. Tepat dibagian atas Candi utama tersebut ada sebuah bujur sangkar dibagian tengahnya yang diyakini merupakan tempat menaruh sesajian pada masa itu.

Di tempat tersebut terdapat bekas kemenyan, dupa dan juga hio yang dibakar sehingga kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tempat tersebut terlihat masih sering digunakan untuk bersembahyang. Lalu dibagian kiri Candi induk terdapat serangkaian panel yang reliefnya menceritakan mitologi utama dari Candi Sukuh. Tepatnya ada 5 panel yang tersusun rapi seperti sebuah cerita.

GambarKeterangan
sejarah candi sukuh relief pertama
Gambar sejarah candi sukuh relief pertama
Di sebelah kiri terdapat lukisan Sadewa, sodara kembar dari Nakula yang merupakan putra termuda dari 5 pandawa. Madrim meninggal dunia ketika Nakula dan Sadewa masih kecil dan keduanya diasuh oleh Dewi Kunti. Dewi Kunti lalu mengasuh mereka bersama ketiga anaknya
sejarah candi sukuh relief kedua
Gambar sejarah candi sukuh relief kedua
Relif kedua menggambarkan Dewi Durga yang merupakan raksasa wanita dengan wajah yang mengerikan. Dua raksasa yang disebut Kalantaka dan Kalanjaya menyertai Batari Durga yang saat itu sedang murka dan mengancam akan membunuh Sadewa. Kedua raksasa tersebut merupakan jelmaan bidadara yang dikutuk karena tak menghormati dewa. Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam akan dibunuh jika tidak mau membebaskan Durga.
sejarah candi sukuh relief ketiga
Gambar sejarah candi sukuh relief ketiga
Di relief ini terlihat gambaran bagaimana Sadewa bersama Semar berhadapan dengan petapa buta di pertapaan Prangalas. Sadewa akan menyembuhkannya dari kebutaan.
sejarah candi sukuh relief keempat
Gambar sejarah candi sukuh relief keempat
Ukiran relief ini menggambarkan adegan pada sebuah taman indah yang memperlihatkan Sadewa sedang bercengkrama dengan Tambrapeta dan putrinya. Serta seorang punakawan di pertapaan Prangalas. Tambrapetra berterima kasih dan ingin memberikan putrinya untuk dinikahi kepada Sadewa.
sejarah candi sukuh relief kelima
Gambar sejarah candi sukuh relief kelima
Relief ini menggambarkan tentang suasana adu kekuatan antara Bima dengan raksasa Kalantaka dan Kalanjaya. Digambarkan Bima sedang mengangkat raksasa tersebut dengan kekuatannya untuk dibunuh.

Bangunan dan Patung Lainnya

Tak hanya patung kura-kura dan garuda, ternyata masih banyak beberapa patung hewan seperti babi hutan dan gajah pelana yang menggambarkan sejarah Candi Sukuh pada zaman dulu dimana para ksatria dan kaum bangsawan yang menaiki Gajah.

Ada juga bangunan dengan relief tapal kuda dengan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kiri dan kanan yang saling berhadapan. Belum ada informasi yang relevan mengenai makna relief tersebut, namun ada pendapat yang mengatakan bahwa relief tersebut merupakan penggambaran rahim seorang wanita dengan sosok yang melambangkan kejahatan di sebelah kiri dan kebajikan di sebelah kanan.

Kemudian, ada sebuah bangunan kecil yang terletak di depan Candi utama yang disebut Candi pewara. Di bagian tengah bangunan ini berlubang dengan patung kecil tanpa kepala menetap di bangunan tersebut. Patung tersebut masih dianggap keramat oleh beberapa golongan masyarakat, dan seringkali kita bisa menjumpai sesajian yang masih bersisa.


Candi Sukuh merupakan salah satu dari banyaknya Candi yang bisa kita temukan di Jawa Tengah. Meskipun sudah banyak artefak peninggalan kuno semacam ini, tak menutup kemungkinan kedepannya mungkin bisa saja kita menemukan Candi tua yang baru terekspos.

Keindahan dari kebudayaan leluhur kita inilah yang membuat Indonesia seakan memiliki daya tarik tersendiri bagi para pendatang. Terlebih Indonesia memang kaya dari segi apapun, jadi marilah kita bersama menjaga apa yang sudah menjadi milik Indonesia. 

Artikel seputar sejarah:

Tags: