Sejarah Tari Remo

Sejarah Tari Remo – Tari Remo merupakan salah satu kesenian dari golongan tari-tarian daerah yang saat ini dikenal berasal dari Provinsi Jawa Timur. Bagaimana-pun masyarakat di era modern seperti saat ini mengenali tarian ini sebagai tari-tarian yang digunakan untuk menyambut tamu “Agung” yang dibawakan oleh satu atau lebih penari.

Tari Remo merupakan kesenian tari tradisional yang berasal dari Jombang provinsi Jawa Timur meskipun beberapa sumber ada juga yang mengatakan dari daerah lainnya, namun masih tetap didalam satu Provinsi. Sejarah Tari Remong / Remo dari Jawa Timur ini lebih tepatnya berasal dari Kec. Diwek desa Ceweng.

Sejarah Tari Remo

Tari Remo megingatkan kita pada sebuah tarian asal Jepang atau Nippon, yaitu tari Yosakoi. Festival tarian ini pertama kali diselenggarakan pada tanggal 10 hingga 11 Agustus 1954 di kota Kochi yang diikuti oleh 750 penari peserta dalam kelompok yang berjumlah 21 buah.

Sejarah tari remo dan yosakoi
Sejarah tari remo dan yosakoi, sumber gambar voanews

Sebelum adanya festival ini, sebelumnya tarian Yosakoi pertama kali ditampilkan umum sebagai kreasi kesenian tari baru pada Pameran Dagang dan juga Industri Prefektur kochi pada maret 1950. Selanjutnya pada tahun 1984 dalam penyelenggaraan ke-30, peserta penari yang mengikut sertakan diri hingga 10.000 orang.

Di Sapporo, Hokkaido, Jepang pada tahun 1992 bulan Juni, diadakan sebuah Festival Yosakoi Soran yang pertama kalinya. Festival ini adalah sebuah festival tari Yosakoi pertama yang diadakan diluar Prefektur Kochi dan diikuti sekitar 1.000 dalam kelompok yang berjumlah 10 buah. Selepas festival di Sapporo inilah, muncul berbagai macam festival Yosaoi yang mulai diselenggarakan di berbagai tempat di Jepang

Sejarah Tari Remo di Indonesia

Festival tarian Yosakoi ini akhirnya masuk ke Indonesia pertama kali pada tahun 2002 di Surabaya dalam rangka perayaan memerpingati Tahun Pertukaran Masyarakat Jepang – ASEAN yang memang pada saat itu merupakan bagian dari program sister city antar Kota Kochi dan juga Kota Surabaya.

Perbedaan yang terlihat langsung antara Yosakoi di Jepang dan Surabaya terletak pada jumlah anggota tim yang hanya terdiri dari 20 hingga 30 orang peserta penari. Pada saat itu kostum dan koreografi dalam tarian boleh dimodifikasi, hanya saja semua tim yang ikut diharuskan menggunakan lagu Yosakoi Bushi sebagai musik pengiring mereka.

Sejarah Tari Remo Putra dan Putri

Sejarah tari remo putra ataupun putri ini juga pada awalnya diciptakan oleh masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai pengamen yang diiringi dengan tari-tarian pada masa itu yang memang cukup banyak dilakoni oleh para penduduk Jombang, meskipun kini tarian tersebut digunakan dengan tujuan yang lain.

Seiring dengan waktu jawaban dari apakah fungsi pertunjukan tari remo dari Jawa Timur ini sebenarnya akhirnya terlihat dari cara penggunaannya. Saat ini kita bisa melihat penggunaan tari remo saat upacara-upacara kenegaraan ataupun festival kesenian daerah.

Makna dan pengertian tari remo dalam bahasa Jawa ini sebenarnya menggambarkan tentang perjuangan seorang pangeran dalam medan laga. Namun dalam perkembangannya, tarian ini menjadi lebih sering ditarikan oleh kaum wanita. Sejak saat itulah, muncul gaya tarian lain seperti remo putri / remo gaya perempuan.

Sejarah Tari Remo Dahulu

Dalam penuturan sejarah yang saya rangkum dari beberapa sumber, tari remo merupakan jenis tarian khusus yang dilakukan / dibawakan oleh penari laki-laki karena memang berkaitan langsung dengan lakon yang dibawakan dalam tarian, yaitu seorang pangeran gagah yang berjuang dalam medan pertempuran, sehingga kesan berani dan heroic dari penari sangatlah diperlukan.

Selain itu, sejarah tari remo dulunya juga merupakan tarian yang digunakan sbeagai pembuka sebuah pertunjukkan yang bernama ludruk, hingga waktu akhirnya mengalihfungsikan menjadi tarian penyambutan tamu, terutama tamu penting atau tamu kenegaraan.

Tidak hanya sebagai tari penyambutan, tari remo juga ditampilkan pada saat festival kesenian daerah sedang diadakan sebagai salah satu upaya demi melestarikan budaya khas Jawa Timur itu sendiri. Maka dari itulah, tarian ini tak hanya lakoni oleh penari pria saja, namun juga oleh kaum wanita, dari segi kostumnya-pun baik putra maupun putri juga berbeda.

Musik Pengiring Tari Remo

Jika dilihat dari segi lagu pengiring, musik pengiring yang digunakan dalam tari remo adalah Gamelan. Asambel musiknya-pun juga tersusun dari bonang barung/babok, saron, bonang penerus, gambang, slentem siter, gender, kethuk, seruling, kenong, gong, dan juga kempul.

Jenis irama yang digunakan dalam mengiringi tari remo biasanya Tropongan dan Jula-Juli sesuai keinginan dan kondisi, tak jarang gending-gending kreasi baru juga turut menghiasi musik tari remo. Dalam pertunjukan Ludruk, seorang penari biasanya memasukkan sebuah lagu pada sela-sela tariannya.

Kostum Tari Remo

Sejarah tari remo
Ilustrasi Sejarah tari remo, sumber gambar voanews

Setiap tarian daerah tentu memiliki pakaian khas ataupun kostum tari yang berbeda, terlebih jika tarian tersebut bisa dibawakan oleh kaum pria dan wanita.

Tata Busana Tari Remo

Busana yang digunakan oleh penari Remo memiliki beragam gaya, seperti:

  • Gaya Sawunggaling
  • Surabayan
  • Malangan
  • Jombangan

Selain nama di atas, adalagi busana khas yang digunakan pada tari remo gaya perempuan / kostum tari remo putri.

Tari Remo Gaya Surabayan

Kostum ini terdiri dari

  • Ikat kepala merah
  • Baju tanpa kancing (hitam) dengan gaya kerajaan
  • Celana sebeatas pertengahan betis dengan jarum emas dikaitkan
  • Sarung batik pesisiran menjuntai ke lutut
  • Setagen yang diikat di pinggang
  • Keris menyelip di belakang

Penari mengenakan dua buah selendang yang satu dipakai di pinggang dan lainnya disematkan di bahu. Masing-masing penari memegang ujung selendang. Terdapat pula gelang kaku yang berupa lonceng yang dilingkarkan pada pergelangan kaki tersebut.

Tari Remo Gaya Sawunggaling

Pada dasarnya, jenis busana ini biasanya dipakai seperti layaknya Tari Remo Gaya Surabayan yang sudah disebutkan di atas, namun perbedaannya terletak pada kaus putih yang dikenakan memiliki ukuran lebih panjang pada bagian lengan sebagai pengganti baju hitam kerajaan.

Tari Remo Gaya Malangan

Busana gaya Malangan pada dasarnya juga sama dengan busana gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni pada celananya yang panjang hingga menyentuh mata kaki serta tidak disemat dengan jarum.

Tari Remo Gaya Jombangan

Gaya Jombangan pada hakikatnya juga serupa dengan gaya Sawunggaling. Perbedaannya hanya terletak pada pakaian yang biasanya penari mengenakan kaus berganti menggunakan rompi untuk menari.

Tari Remo Putri

Terakhir, dalam busana Tari remo Putri yang digunakan jelas berbeda dengan tari remo yang aslinya. Penari mengenakan Sanggul, mekak hitam yang menutupi bagian dada. Kemudian, memakai rapak untuk menutupi bagian pinggang hingga lutut dan hanya mengenakan satu buah selendang saja yang disematkan dibahu-bahu.

Demikianlah akhir dari artikel sejarah tari remo dari duniasejarah.com dan semoga dengan adanya artikel ini dapat membantu teman-teman mencari referensi yang relefan untuk tugas maupun sekedar literaturnya saja, artikel ini berasal dari berbagai sumber referensi yang memang valid.

Artikel seputar sejarah:
Baca Juga:  Sejarah Hip Hop

Originally posted 2018-02-07 08:25:21.

Tags: